Dear #7

Dear Antares,
Waktu kembali pada tempatnya. Kali ini kita tidak lagi memandang galaksi seperti sebelumnya. Cukupkah kita hanya dengan memahami dunia masing-masing? Rasanya baru kemarin andromeda memancarkan gelombang cahaya yang kita saksikan bersama. Ah ya, kristal-kristal itu kini telah merangkai diri. Sebelum kita bisa menyentuh dan merangkainya bersama.  Mereka bertransformasi. Layaknya partikel-partikel penyusun molekul yang saling membentuk kehidupan.



Dear #6


Dear Antares,
Aku menulisnya di sela-sela revolusi tata surya pada galaksi yang kita pijak saat ini. Kosmos yang aku temukan terlihat berbeda. Tahukah kamu, pada saat-saat ini, aku menemukan “kembali” ketenangan yang telah lama hilang. Entahah, mungkin sekitar dua waktu penuh revolusi bumi ini. Ternyata sejarah memang berulang, begitu bukan? Manusia tampaknya memang dirancang untuk selalu menemukan lagi kepingan yang pernah dilalui ataupun ditinggalkannya. Aku tidak tahu mengapa. Sejarah selalu memberikan pengalaman dan pengamatan. Sejarah juga memberikan kesadaran dan identifikasi pada setiap butir materi dan partikel yang melekat pada diri.

Dear Antares,
Langitku sunyi. Aku menyukainya. Namun bukan berarti sunyi yang hilang. Sunyi yang menenangkan. Apa yang aku lihat, nampaknya langit tak lagi sudi menampakkan lentik wajahnya padaku. Perlahan, jejaknya terasa menjauh. Benarkah ini dikarenakan fenomena yang mereka sebut-sebut dengan “globalisasi” atau “global warming” itu? Ah, siapa peduli. Mereka yang berteriak-teriak itupun masih menatap hampa harapan dibalik fenomena iu. Aku? Aku tidak peduli. Selama kosmosku masih dapat berputar dan menatap padaku, aku akan tetap berdiri.

Maybe Another Life


In another life,
Maybe we see everything,
In a different light,
Like an endless summer,
And in the years from now,
We'll all be living,
The same old certain dream,
That we imagined would be, 
Somewhere high,
Somewhere high above the clouds,
We could live there safe and sound,
Far away from where we are,
Yeah we'll find our star,
But maybe that's another world...


(Westlife-Another World)



In another world, maybe we can see each other,
Something that we can't see on each of us,
Because we're not born to be the same thing,
In another life, maybe I can find you like what I want to,
In another life, maybe you can find me like what you want to,
But it would just happen in another life,
We don't have enough sun to give us life,
Yes, there is only in another life,
Cause the last light of mine,
Has became my last hope,
And the only hope just goes by now.

Paska

Kilatan sebuah pelangi atas langit. Seorang anak manusia yang menunggu jingga terbenam matahari. Karena kita ini terpaut dalam wajah yang sama, hari yang sama, momen yang sama. Kelabu dan semu, itu yang dirasakan dahulu. Tidak benar ada sebuah peristiwa dimana kita tidak mengetahuinya. Karena kelopak mata telah sepanjang waktu menunggu terbenamnya matahari. Menggantikan siang yang lelah. Aku tahu kamu dahulu. Kamu tahu aku kini. Tergelak mematung. Berkicau pada diri sendiri. Meracau di sore hari. Mungkinkah akan hilang sebuah siluet yang pernah berjalan menyusuri lorong waktu?  Memeluk dan menggenggam impian dari sang guru. Kita menjadi pelangi, melebur dalam garis yang pasti. Kan ku kecup hujan untukmu. Kan ku tantang terik hari agar salamku tersampaikan padamu. Sebab bunga terakhir akan tetap berpijar meski ditelan waktu.

Sebanyak masa yang telah usang, sepanjang masa akan terkenang. Lantunan merdu pertanda hadirmu. Lantunan lagu, pertanda akan diriku. Menunggu di balik meja, mengintip lewat cermin. Sebab mata kita kan sulit tuk bertemu, apalagi berpadu. Takdir bukan jawaban untukmu dan bukan juga untukku. Hanya lewat bisu, cukup dengan membisu, jiwa kita akan bertemu. 

Dear #5

Dear Antares,
Aku tak mampu menemukanmu. Aku tak lagi melihatmu di balik berpendarnya cahaya malam dalam waktu-waktu ini. Aku tidak tahu, mungkin sudut penglihatanku kah yang salah. Atau mungkin karena aku tak lagi memiliki loteng tempat aku memandangmu dari kejauhan sana lagi. Aku pun tidak tahu, apakah engkau yang tidak ingin aku temukan lagi. Terakhir, aku tak lagi melihat cahaya merah menyala yang selalu engkau banggakan dulu. Aku tidak mampu menguraikan setiap pantulan cahaya yang sebelumnya dengan gagah engkau tunjukkan pada angkasa. Harusnya sudutmu tidak berubah. Harusnya engkau tidak hilang ditelan masa. Harusnya engkau tidak menghilang dari pandanganku. Atau harusnya aku yang tidak seharusnya mengatakan harus padamu?

Tentang Kita...


Aku memasukinya. Aromanya sangat khas, begitu kukenal. Setiap guratan di tubuhnya, setiap bekas yang pernah aku jejakkan, dan bukan hanya aku yang pernah melakukannya. Meskipun sekarang ia telah berbeda, ia tak lagi sama seperti dulu. Beberapa make up telah membuatnya terlihat lebih baik dan tidak seburuk dahulu. Namun aku masih hafal betul padanya. Bagaimana tidak? Ia adalah tempat pertama kali aku mendengar sebuah lantunan lagu yang diciptakan untuk menghadirkan kehangatan di rumah kita. Kemudian aku melihatnya. Seorang anak berumur 15 tahun. Duduk di bangku baris kedua, kolom kedua dari barat. Anak perempuan itu mengenakan pakaian sekolahnya yang berwarna abu-abu, dengan badge berwarna kuning di sebelah lengannya. Ia tersenyum setengah tertawa sembari memandangi papan tulis di hadapannya. Di papan tulis itu terdapat rangkaian kata yang akan mengalun merdu setelahnya. Aku memandang anak itu lagi. Aku ingat jelas, ia adalah aku. Aku empat tahun yang lalu. Di balik tembok berwarna hijau, dengan papan tulis putih di depan kelas ini yang menandakan bahwa ini adalah kelas X-C. Tetapi bukan ini kelasku, hari ini hanyalah menjadi hari dimana aku bertemu dengan teman-teman lain untuk mendengarkan sebuah lirik. Dan kini aku dapat melihat mereka, beberapa muncul satu per satu, di baris sana, di kolom sini, hingga kelas ini terisi hampir belasan orang. Lantunan lirik itu mengalun perlahan... Aku yang dulu, mereka, telah menghilang... Tetapi kudengar jelas lewat telingaku lagu itu...

Dear #4

Dear Antares,
Hai, apa kabarmu? Serasa lama sekali aku tidak menyapa lewat tulisan. Tapi aku yakin, bahwa kamu sendiri bahkan tidak tahu telah berapa banyak tulisan yang aku buat untukmu dan tidak pernah aku keluarkan J. Tentang menanyakan kabar, aku rasa kita masih sangat baik bukan? Bahkan hampir tidak ada satu haripun kosong tanpa kehadiranmu dalam waktuku. Memang, rasanya rangkaian hari ini benar-benar begitu rapat seperti layaknya partikel-partikel penyusun gelas kaca di ujung sana, benar begitu?

Something That You Wanna Be, Something That You wanna Do, Yes They Are...

They are so lucky, they born to be that. They know from the deep of their heart and soul, and they can do that. They are so lucky could do the extraordinary thing, exploring the world and have a big journey 'till they last breathe. They can fly across the island, they can swim across the sea. They can feel the desire, they've got that! What so blessed! Their blood has blended with everything that they see, every dot of nature. They are lucky, so so lucky. I also wanna do that, exploring the world, enjoying what kind of things that i love. But another side of my life, has pressure me to just being another human. I hate this, i wanna scream, i wanna run away. Is there no place that could accepting my dreams? Is there no one that would supporting every single thing that i love to do? In the whole of my life, i just wanna be an explorer, i wouldn't end my journey only with an ordinary life of human. I've my rights, but i can't even take the first step. They're so lucky and in the whole of my life i just want to feel that so.

I don't want to only stay on the only one place. I want to move. Is there no supporting things for me to dream and realize those kind of dreams? Could anyone hear those kind of my voice and help me out to get there?

The Last Journey of Words

Thanks for being nice to me. Thanks for having your time for me. I'm so glad you'd really did to come. It's even more than happiness seeing you fine. So this how's life can overcome. You did good, and i am so. But we can't just stop and continue again about a long journey. See, i still breathe in the same way i did in cloudy afternoon ever last. For the dry wind I ever touch. They left something broken that you put in my chest. If only those kind of things could be completed in a perfect maze long before.

You're sorry for that night, and i'm sorry for the last night. The mirror that put on your eyes, was quitly been done now. The mirror that you put on my eyes, was quitly been done, ever before you done.

Setajuk Kata Berisikan "Apa Kabarmu Hari Ini?"

"Apa kabar? Baik-baik sajakah?"
Hanya setajuk kata itu saja yang sebenarnya mampu melukiskan perhatian lebih dari apapun. Hanya kata-kata sesederhana itu. Tidak perlu aku menjawab, tidak perlu engkau pun tahu, tidak perlu aku memberi tahu, namun itu telah cukup. Percayalah, aku tidak akan mengatakan apapun, aku tidak akan mengucapkan satu kalimat atau sepatah kata pun jika pertanyaan itu tidak pernah hadir dalam dirimu. Sebuah simbol kesederhanaan yang terkristalisasi menjadi permata tersembunyi. Hanya kata-kata itu. Hanya pertanyaan itu. Aku tidak meminta lebih.

As A Raindrops


I'm gonna release out my soul,
I'm gonna flying to the pass sky,
When the birds starting jump in the box,
And the bats never let away the snow falling down,
As a green and blue dancing on the midnight,
As my tears sweeping sweat,
And my heartless spreading everything,
As a snow ball breaking out trees,
Touchy, softly...
Bridging a half-empty,
Burning down coldly,
Running fast crunchy...

Dear #2


Dear Antares,
Poros waktu semakin berotasi, menunjukkan revolusi yang menemukan sejatinya bagaimana keadaan itu bergulir. Menyatukan kepingan remah-remah yang sempat ditelantarkan. Gugusan meteoroitmu jatuh tepat pada saat malam bergeming. Pada pusat tegak lurus sembilan puluh derajat, engkau bersaksi. Dalam sudutnya yang tumpul, kembali engkau mengurai sebuah jarak, menghubungkan dan mengaitkan. Dalam polanya yang pasti, engkau mengukur dan menyelami langitmu sendiri, menguatkan dan memastikan.

Angin


Aku iri pada angin...
Aku iri padanya yang dapat membalut kesedihanmu. Ia yang dapat membantumu mendorong air mata dari pelupuk untuk dituahkan, untuk dilepaskan, meninggalkan beban  berat yang engkau rasakan. Sedangkan aku tak pernah mampu membaca guratan kesedihanmu. Menerka saja aku tak bisa. Apalagi untuk menghiburmu saat duka itu datang.

Dear #1


Dear Antares,
Engkau yang selalu bersinar terang disana...
Seolah aku melalui cerobong dan meresapi celah-celah waktu yang baru. Membuka kembali jendela yang sebelumnya hanya terbuka setengah. Membiarkan asap dari embun pagi kembali meresap memenuhi rongga-rongga udara. Menemukanmu... tidak, tepatnya saat segalanya tidak aku rencanakan dan saat segalanya aku lepaskan ternyata cinta dapat membebaskan. Betapa tiap butiran air yang menetes dari langit itu memberikan sebuah pencerahan baru. Memberikan warna pelangi di setiap sudut wajahnya ketika memantulkan matahari. Tentu saja, aku mataharinya, dan engkau tetap menjadi Antares disana. Meskipun jauh dan berbeda tetapi kita berada dalam sebuah gugusan yang teramat jauh dari kesederhanaan untuk ditemukan. Nampaknya harus aku temukan alur dalam mempelajari teori “Black Hole” untuk menemukan sendiri tentangmu dan tentangku.

Karena Bunga Pun Tahu Waktu Mekarnya


Persis disini, dimana waktu menjeratku untuk terus berjalan, mendekapku untuk selalu merengkuh butiran-butiran embun yang terjatuh, semuanya pergi seketika. Aku mampu tanpamu, aku tahu benar itu, sebab sebelum kehadiranmu pun aku mampu menghadapi semuanya sendirian. Aku dapat merangkai binar-binar anugerah yang terhampar di hadapanku bahkan jauh sebelum aku mengenalmu. Maka aku rasa tidak ada satupun alasan yang dapat menghalangi langkahku untuk tetap berjuang. Aku dan kamu hanya sekelumit cerita yang mampir dalam perjalananku yang tanpa henti. Oleh itulah, ketika kamu pun harus mengambil langkah yang berbeda dari yang aku tempuh, seharusnya aku dapat menerimanya, dengan senyum lebar, karena seharusnya aku pun mampu berterima kasih padamu atas iringan langkahmu yang sempat menemaniku. Semestinya semua bisa aku bungkus dalam untaian do’a untukmu dan untukku.

Namun setiap anak manusia memiliki perasaan masing-masing yang tak dapat mereka ungkapkan bukan? Seperti layaknya seorang anak kecil yang senantiasa ingin selalu berada dalam pelukan orangtuanya. Atau seperti mereka yang dalam waktu singkat dapat menjalin persahabatan? Atau seperti manusia yang tidak dapat hidup dengan diri sendiri. Aku tidak menyesal, sungguh tidak atas karunia Tuhan yang mempertemukan kita dan kemudian memberikan jalan yang berbeda. Hanya saja, perasaan yang tersangkut jauh di dalam hatiku inilah yang acapkali membuatku gusar.