Secangkir Kopi Tanpa Gula

Perkenalkan, aku seorang mahasiswi sebuah Universitas swasta di Jakarta. Dua tahun yang lalu aku diterima di Universitas ini dengan sebuah proses seleksi beasiswa penuh yang ditawarkannya. Tanpa beasiswa ini mungkin aku tidak akan pernah meneruskan lagi pendidikanku hingga taraf perguruan tinggi. Tanpa disangka, aku lolos pada seleksi beasiswa tersebut, mengalahkan ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia, serta menyambut keluarga baruku yang terhitung hanya sekitar tiga puluh-an anak. Kami mencoba mengukir dan menggapai mimpi-mimpi kami di kampus kami, serta berusaha mengumpulkan bulir-bulir keringat demi membanggakan orang-orang rumah maupun donatur yang berbaik hati membiayai kami, tak terkecuali yang terhormat tentu saja pihak kampus kami. Kami tinggal di sebuah rumah yang notabene adalah “asrama” kami. Gratis. Kamarku pun lebih besar dari ukuran kamar kos untuk empat orang. Dan selain beasiswa kuliah, kami juga ditunjang dengan uang saku perbulan, serta uang buku tiap semester. Sangat beruntung bukan? Aku rasa aku harus sangat berterima kasih kepada takdir yang telah membawaku sampai ke kehidupan saat ini.

Sanggar-Rumah Kerinduanku, Part 5



“Keputusan kan ada di dirimu sendiri, bukannya aku mau menjelek-jelekkan, tetapi hati-hati lah”. Tatapan matanya yang setengah meruncing rasanya berkata-kata seperti itu kepadaku. Aku terdiam sejenak, masih merasakan nafas-nafas udara yang bergejolak di sekitarku. Aku masih terduduk manis di teras itu. Sedangkan ia masih dengan rajin, jemarinya memencet-mencet keypad handphonenya. Aku menatapnya sejenak. Tubuhnya kurus kecil dan posturnya hanya sebatas laki-laki biasa, tidak tinggi, tidak juga pendek. Masih nyaman ia duduk bertengger di atas motor Yamaha Mio-nya yang berwarna biru kehijauan dengan corak pelangi pada sisi sampingnya. Udara luar memang sedang dingin, sebab ini adalah waktu-waktu pergantian musim, tetapi nampaknya bukan itu yang membuatnya mengenakan sweater. Sweater hijaunya yang berwarna ketuaan dan menurutku sudah tampak lusuh itu memang selalu dipakainya setiap hari, yang entah itu merupakan sweater kesayangannya atau tidak ada sweater lain? Entahlah. Sepertinya argumen pertama yang lebih dapat diterima. Beralih ia menatapku. Aku membalas dengan tatapan bingung yang masih setengah tidak mengerti. Kami sama-sama menatap langit, kami sama-sama membagi cerita dalam kebisuan. Satu hal yang tidak pernah aku kira sebelumnya adalah, bahwa orang ini, yang kini berada di hadapanku, merupakan sosok yang memiliki hati dan jiwa begitu besar, yang memiliki vision begitu besar pada apa yang akan ia hadapi. Sebelumnya, sebelum aku mengenal dekat dirinya, yang aku tahu ia adalah seseorang dengan bakat goresan cat air atau pewarna apapun yang luar biasa. Dimanapun ia menggoreskan tangannya, seolah saat itu juga bumi menginginkan ia melahirkan karya berupa gambaran-gambaran luar biasa. Aku mengagumi setiap inchi garis-garis dan desain yang mampu ia wujudkan, karena memang mereka luar biasa. Bukan hanya dalam bentuk dua dimensi saja tetapi, ah... terlalu banyak jika aku jabarkan, aku tak mampu. Dan yang sulit aku percayai adalah, bahwa pada saat ini, dua anak manusia ini –aku dan dia- bisa berbagi cerita, cerita tentang hati, yang bahkan pada teman-teman terdekatku saja tidak pernah aku ceritakan, begitu pun ia.

Adil Itu... Pasti dan Tidak

         Aku menghirup nafas dalam-dalam. Kubiarkan kepalaku tertunduk. Rambutku yang panjang dan kemerahan jatuh tergerai begitu saja. Gerimis masih saja turun, membuatku semakin enggan untuk pulang ke rumah. Aku terduduk sendirian di halte ini. Halte di depan kampus tempat aku menimba ilmu. Tempat duduknya seperti sebuah balok panjang yang ditutupi keramik dan berbentuk sandaran. Keramiknya berwarna putih yang sudah mulai mengusam ditelan waktu. Suara bising jalan raya tidak begitu terdengar lagi olehku. Hanya suara desir angin yang masih saja tercerna di dalam pendengaranku. Angin berhembus lagi. Tiupannya menerjang daun-daun yang telah gugur dan berserakan di tepi jalan. Aku termenung mengamati, daun itu berputar-putar dan berguling-guling di jalan raya. Terhempas kesana-kemari. Aku memalingkan wajah. Bersandar pada tiang besi yang berada di samping tempat dudukku ini. Dingin terasa di pipiku, namun aku menikmatinya.

Sanggar, Rumah Kerinduanku-Part 4

            Laki-laki itu, pertama kali aku melihatnya adalah saat ia duduk sendiri di sudut sebuah kantin sekolah. Kepalanya tertunduk, terfokus kepada minuman pop ice yang terhidang dingin di hadapannya. Sambil mengaduk-ngaduk esnya terus menerus, lelaki itu terdiam. Saat itu sudah pukul empat, sekolah telah sepi, mungkin hanya tinggal segelintir anak-anak saja yang masih betah untuk mengobrol di sanggar, atau beberapa pengurus takmir masjid yang lebih suka berdiam diri di mushola sekolah. Selain laki-laki itu hanya ada satu orang lagi di kantin ini, ya tentu saja si pemilik kantin, seorang laki-laki, namanya Pak Sis. Pak Sis adalah salah satu dari tukang kebun sekolahku juga. Biasanya yang menjaga kantin ini adalah Bu Sis, istri dari Pak Sis. Seorang perempuan paruh baya yang selalu halus dalam setiap tutur kata dan nada bicaranya. Bahkan menurutku Bu Sis tidak mempunyai bakat dalam berteriak, seperti layaknya yang sering dilakukan murid-murid sekolah ini saat berdesakan membeli jajan di waktu istirahat tiba. Karena waktu yang telah sore inilah yang membuat akhirnya Pak Sis menjaga kantin, sedangkan Bu Sis telah pulang terlebih dahulu. Pak Sis saat itu sedang asyik duduk di salah satu bangku kantin sambil mendengarkan radionya.

Sanggar, Rumah Kerinduanku-Part 3

            Aku tidak tahu sejak kapan mereka tertawa cekikikan memperhatikan fotoku. Yang jelas, aku sama sekali tidak sadar momen memalukan yang dicuri dariku itu. Hingga sampai akhirnya Wheny menunjukkan sebuah gambar yang bertengger manis di layar hp-nya. Oh hell no! That was me... I was fall asleep some minutes ago, but i didn't realize that i really slept at that time. Foto itu jelas masih terbingkai di ingatanku. Meski hanya foto setengah badan yang diambil. Fotoku yang tertidur dengan beralaskan tas kusutku yang berwarna coklat dengan motif kotak-kotak. Sekilas aku pikir betapa polosnya wajahku dan kemudian tertawa dalam hati, tapi anggapan itu langsung cepat-cepat aku hilangkan. Bagaimanapun aku tidak suka foto-foto semacam itu bisa dimiliki orang lain. Sungguh memalukan! Aku bergegas bangun dari posisi tidurku, seragam biruku terlihat sangat kusut, apalagi jilbab yang aku pakai, sudah berbentuk seperti kain lusuh yang siap untuk dibuang. Errrrggghhh, kenapa juga mesti ketiduran, ucapku dalam hati. Aku memang berniat untuk beristirahat sejenak, tetapi tidak untuk tidur, lagipula pikirku tidak mungkin aku bisa ketiduran ditempat sepanas ini. Aku berdiri, berjalan selangkah mendekati Wheny.

Sanggar, Rumah Kerinduanku-Part 2

            Hari ini seperi biasanya, sehabis bel berbunyi satu tempat yang aku tuju. Tentu saja sanggar baruku. Aku dan beberapa teman-teman sedang sibuk mempersiapkan acara besar Bedah Buku Antologi Puisi kami. Memang, event itu tinggal hitungan beberapa minggu lagi. Aku setengah berlari menuju sanggar itu, bukan karena aku sangat bersemangat untuk membantu, tetapi aku senang melihat begitu banyak teman-temanku yang berkreasi membuat karya-karya lukisan, sebab event besar kami nanti juga akan diselingi dengan pameran lukisan dari anak-anak sanggar. Belum sampai di tempat, sudah ada beberapa anak yang tampak di lorong persimpangan sanggar.

Sanggar, Rumah Kerinduanku-Part 1

           Saat itu kelasku sedang kosong pelajaran. Suasana gaduh sekali. Aku hanya terdiam di bangkuku seperti biasanya. Di hadapanku terdapat buku-buku pelajaran matematika yang seharusnya saat ini sedang berlangsung. Ku biarkan buku-buku itu berserakan seenaknya saja. Aku tak ada mood untuk melakukan apapun. Aku hanya ingin kelas ini cepat berakhir dan aku bisa segera pulang untuk tidur. Kucoba benamkan wajahku di buku-buku itu, berharap keletihan ini juga akan segera pergi. Aku melirik sesaat keadaan kelas, teman-temanku yang lain sibuk bernyanyi dan berjoget ria di depan kelas. Kelasku cukup besar dibanding dengan kelas lain, sehingga cukup banyak ruang untuk menjadi ajang permainan di dalamnya. Ada yang berkutat dengan handphonenya. Ada yang sibuk berteriak dan main kejar-kejaran. Ada pula yang malah pergi nongkrong di kantin. Oh Tuhan, siswa SMA macam apa ini, batinku. Meskipun baru menginjak di kelas X, tetapi aku sudah bertingkah layaknya orang dewasa yang memikirkan negara. Lucu dan aneh memang, tapi entah, itulah aku. Selalu ingin memandang jauh ke depan terhadap negara ini.

Sudut Kolam

          Malam ini basah, seperti biasanya. Tetesan air hujan yang akhir-akhir ini terus turun sepanjang malam tak kunjung jua berhenti menimpa sepanjang jalan ini. Aroma daun bercampur air, serta tanah basah yang khas semerbak di segala penjuru. Aku masih terus berdiam diri di kursi tua ini. Di kursi yang kayunya sudah mulai rapuh dan dihiasi oleh cat berwarna hijau yang sudah terkelupas dimana-mana. Sebuah telaga kecil terdiam di depanku. Airnya berwarna hijau ketuaan menandakan banyaknya ganggang yang bersemayam di dalamnya. Tersandar ku sendiri. Angin malam sedikit berbisik berceloteh dan berdansa ria di telingaku, membuat dingin semakin merasuk. Tetapi aku tetap disini. Sendiri.